Dengan berkembangnya teknologi khususnya mobilitas manusia dan transportasi Hubungan karbon monoksida dengan kemajuan teknologi dan transportasi sangat erat, karena gas ini banyak dihasilkan oleh kendaraan bermotor. Semakin berkembangnya teknologi dan semakin banyak kendaraan bermotor yang digunakan, jumlah karbon monoksida yang dihasilkan pun semakin meningkat. Hal ini menempatkan risiko yang lebih tinggi bagi kesehatan manusia karena paparan karbon monoksida yang terus-menerus dan berlebihan.
Emisi gas buang yang dihasilkan setiap kendaraan bermotor itu pun tidak semuanya memenuhi ambang batas emisi gas buang kendaraan bermotor. Menurut World Health Organization (2016) 7.3 juta orang meninggal akibat pencemaran udara dan kasus tertinggi terjadi di kawasan Timur Tengan dan Asia Tenggara dengan rata-rata tingkat pencemaran per tahun melebihi nilai ambang batas. Tercatat 3,8 juta kematian di kawasan Timur Tengah dan Asia Tenggara 567.000 kasus kematian diantaranya disebabkan oleh penyakit pernapasan dan kanker yang diakibatkan oleh paparan partikel halus.
Karbonmonoksida (CO) merupakan gas beracun yang dapat membahayakan kesehatan manusia. Meskipun tidak memiliki warna, bau, atau rasa, namun gas ini dapat menimbulkan efek negatif yang serius bagi tubuh manusia jika terpapar dalam jumlah yang tinggi. Karbonmonoksida bisa muncul dari sumber-sumber yang beragam, seperti asap kendaraan bermotor, asap rokok, kompor gas yang tidak berfungsi dengan baik, dan mesin yang menggunakan bahan bakar fosil.
Paparan karbonmonoksida dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, mulai dari sakit kepala, mual, pusing, hingga keracunan yang fatal. Salah satu alasan mengapa karbonmonoksida sangat berbahaya adalah karena gas ini dapat dengan mudah masuk ke dalam darah melalui paru-paru, kemudian mengikat diri pada hemoglobin yang seharusnya membawa oksigen ke seluruh tubuh. Akibatnya, sel-sel tubuh akan kekurangan oksigen, menyebabkan kerusakan pada organ-organ vital seperti otak, jantung, dan paru-paru.
Efek samping yang paling umum dirasakan akibat paparan gas karbon monoksida (CO) yaitu menurunnya sel pembentuk antibody. Ketika sel pembetuk antibody mengalami penurunan maka hal ini yang merupakan pintu masuk utama untuk proses terjadinya reaksi atau kelainan tubuh seperti alergi, infeksi paru, dan saluran pernapasan, dan gejala-gejala lainnya
Karbonmonoksida (CO) berasal dari berbagai sumber, terutama dari proses pembakaran bahan bakar fosil. Beberapa sumber umum karbonmonoksida antara lain:
- Asap kendaraan bermotor: Kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar fosil seperti bensin atau diesel menghasilkan gas buang yang mengandung karbonmonoksida. Paparan karbonmonoksida ini dapat terjadi di jalan raya, terutama pada saat kemacetan lalu lintas.
- Kompor gas: Penggunaan kompor gas yang tidak berfungsi dengan baik atau ventilasi yang tidak memadai dapat menyebabkan terlepasnya karbonmonoksida ke udara dalam ruangan. Paparan karbonmonoksida dari kompor gas dapat berbahaya jika tidak diatasi dengan tepat.
- Pemanas ruangan: Pemanas ruangan yang menggunakan bahan bakar seperti kayu bakar, batubara, atau minyak juga dapat menjadi sumber karbonmonoksida jika tidak digunakan dengan benar. Kondisi perapian yang tidak mendapat sirkulasi udara yang cukup juga dapat menimbulkan paparan karbonmonoksida.
- Industri: Proses industri yang melibatkan pembakaran bahan bakar fosil atau produksi gas beracun juga dapat menghasilkan karbonmonoksida sebagai salah satu produk sampingan. Paparan karbonmonoksida di sekitar pabrik atau industri dapat menyebabkan risiko kesehatan bagi pekerja maupun masyarakat sekitar.
- Rokok: Rokok merupakan salah satu sumber karbonmonoksida yang umum. Peminum rokok dapat terpapar karbonmonoksida melalui asap rokok yang dihisap dan dihirup ke dalam paru-paru. Paparan asap rokok yang mengandung CO juga dapat meningkatkan resiko kejadian penyakit ISPA
- Kebakaran: Kebakaran rumah atau gedung yang melibatkan bahan bakar seperti kayu, plastik, atau bahan bakar fosil lainnya juga dapat menghasilkan karbonmonoksida akibat pembakaran yang tidak sempurna.
Dengan mengetahui sumber-sumber karbonmonoksida yang potensial, kita dapat lebih waspada dan mengambil langkah-langkah pencegahan yang diperlukan untuk mengurangi risiko paparan terhadap gas beracun ini. Pencegahan merupakan kunci utama dalam melindungi diri dan orang lain dari bahaya karbonmonoksida.
Pencegahan Karbonmonoksida sangat penting untuk mengurangi risiko paparan terhadap gas beracun ini. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat Anda lakukan untuk mencegah bahaya karbonmonoksida:
- Pastikan ventilasi udara yang baik di dalam rumah atau ruangan. Sirkulasi udara yang lancar dapat membantu mengurangi konsentrasi karbonmonoksida di udara.
- Periksakan secara berkala alat-alat yang menggunakan bahan bakar fosil, seperti kompor gas, pemanas air, dan perapian. Pastikan bahwa alat-alat tersebut berfungsi dengan baik dan teratur dilakukan perawatan. Hindari penggunaan alat-alat tersebut di dalam ruangan yang tertutup tanpa ventilasi yang memadai.
- Pastikan penggunaan alat pemanas ruangan atau generator listrik di tempat yang aman dan sesuai dengan petunjuk penggunaan. Hindari penggunaan alat-alat tersebut di dalam ruangan yang tidak memiliki ventilasi yang baik.
- Pasang detektor karbonmonoksida di dalam rumah atau ruangan. Detektor ini akan memberi peringatan jika konsentrasi karbonmonoksida dalam udara melebihi batas aman.
- Jika Anda merasa gejala keracunan karbonmonoksida, segera keluar dari ruangan yang terpapar kulampuara. Buka jendela dan pintu untuk ventilasi udara yang baik, lalu hubungi layanan darurat untuk pertolongan medis segera.
Keselamatan adalah hal utama yang harus diutamakan ketika membahas bahaya karbonmonoksida. Semua orang perlu paham akan risiko paparan gas beracun ini dan mengambil langkah-langkah pencegahan yang diperlukan. Dengan melakukan langkah-langkah sederhana seperti yang telah disebutkan di atas, Anda dapat melindungi diri dan keluarga dari bahaya karbonmonoksida serta menjaga kesehatan Anda tetap terjaga. Tetap waspada dan selalu ingat, pencegahan lebih baik daripada mengobati.
Sumber:
– Vriska V Rambing, Jurnal Kesmas Universitas Sam Ratulangi
– Muhammad Addin Rizaldi dkk, Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia
– Kurniawati, Repository Unimus
Penulis : #imsafer Kavana Vicky Atthariq, 2024.